Senin, 18 Januari 2016

Interpretasi Ruang Rindu “Letto”

“Ruang Rindu” adalah lagu yang dipopulerkan oleh band “Letto” dengan susunan dan lirik yang menarik sehingga sukses diterima oleh penikmat musik Indonesia. Noe sebagai vokalnya mampu menyajikan dan membawakan syair-syair yang terkesan santai dengan nada-nada yang kalem. Namun jika melihat dari segi bahasa dan sastranya diiringi nada sendunya akan mampu membawa penikmatnya seakan ikut masuk ke dalam tiap alunan syairnya. Dalam tiap syairnya, tentunya memunculkan interpretasi tersendiri bagi penikmatnya untuk membawa lagu ini masuk dalam nuansa-nuansa hati masing-masing. Melihat secara sosio-historis yang digawangi oleh Noe bernama asli “Sabrang Mowo Damar Panuluh” yang merupakan putra dari M.H. Ainun Najib, membuat saya memandang tiap syairnya merupakan filosofi yang mengarah kepada romansa ketuhanan.

Secara prerogratif, tentu kita memiliki gaya bercerita dan memahami yang berbeda-beda. Berikut adalah lirik lagu Letto menurut pemaknaan yang saya dapatkan:
(Di daun yang ikut mengalir lembut)
(Terbawa sungai ke ujung mata)
Kata Daun dalam KBBI di antaranya bermakna: Sebagai alat bernapas dalam tumbuhan dan mengolah zat makanan. Namun dalam pemaknaan saya, daun merupakan suatu hal yang dianggap penting meskipun kecil yang kemudian terbawa sebuah peristiwa yang lembut (tidak terduga) hingga nampak begitu jelas di pelupuk mata dan terasa nyata.
(Dan aku mulai takut terbawa cinta)
(Menghirup rindu yang sesakkan dada)
Sehingga muncul kebimbangan dan  hati ketika harus terbawa arus cinta (Dunia) dengan segala keindahan dan aktifitasnya  yang kemudian memunculkan kerinduan akan sesuatu  begitu dalam dan sangat kuat.
(Jalanku hampa dan kusentuh dia)
(Terasa hangat oh didalam hati)
Ketika kegundahan akan sesuatu yang hilang mulai meraba hati seorang insan maka saat itulah kita akan mencari-cari sesuatu yang mampu melengkapinya dan memaksa kita untuk kembali bersentuhan (menghadap) kepada-Nya yang kemudian memberikan perasaan damai dalam hati. Khususnya bagi yang mempercayai adanya kekuatan yang Maha Dasyat (Tuhan).
(Kupegang erat dan kuhalangi waktu)
(Tak urung jua kulihatnya pergi)
Tentunya, perasaan damai itu akan kita pertahankan dengan semaksimal mungkin dan berharap waktu tidak pernah beranjak dari kita meski sejenak meskipun pada akhirnya tetap kita tak kuasa menahan-Nya untuk beranjak meninggalkan kita.
(Tak pernah kuragu dan slalu kuingat)
(Kerlingan matamu dan sentuhan hangat)
Sebagai perindu yang sangat berharap balas kasih dari-Nya sudah tentu setiap moment yang indah dan nuansa-nuansa yang hadir dalam intensitas bertemu yang sangat jarang dirasakan oleh seorang hamba tidak akan dilupakan. Bahkan jika harus ditukar dengan apapun, kenangan itu akan selalu ia genggam dan takkan tergantikan. Meski persinggungan itu berupa teguran ataupun nikmat dari-Nya.
(Ku saat itu takut mencari makna)
(Tumbuhkan rasa yg sesakkan dada)
Dengan begitu lembutnya, rindu yang muncul itu memberikan pemaknaan yang sulit. Bukan bermaksud memaknainya sebagai nikmat yang menjadikan kita lupa dan merasa tinggi derajat di mata-Nya sehingga sangat sulit dan menyesakkan dada dalam menguak arti sebenarnya apakah ini hanya sebuah fatamorgana atau nikmat yang nyata.
(Kau datang dan pergi oh begitu saja)
(Semua kuterima apa adanya)
Tuhan adalah Dzat yang bersifatan Kuasa dalam hal apapun. Tentu bukan merupakan suatu kenistaan jika Dia datang kemudian menjamah hati setiap insan yang dikehendaki dan meninggalkannya dalam kehampaan kapan pun sekehendak-Nya. Kita sebagai hamba yang tidak punya kuasa dan sebagai penerima takdir pastinya sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mempersilahkan Tuhan berbuat hal demikian.
(Mata terpejam dan hati menggumam)
(Di ruang rindu kita bertemu..)
Kerinduan yang sangat dan dalam selanjutnya hanya mampu kita pendam, seraya berfikir (mata terpejam) dan membatin “Kita hanya mampu bertemu dalam ruang rindu (Ibadah; sholat)” dimana kita mampu bertemu/komunikasi dengannya meskipun dalam penglihatan kita semua itu tidak bisa kita sentuh dan raba kecuali hanya dalam perasaan dan suasana sunyi yang menentramkan.
Sinopsis:
Kita (Manusia) yang faktanya memang hidup dalam dunia yang fana meski terlihat nyata tentu merasa sah-sah saja jika memandang dunia ini begitu indah dan tidak sengaja mengikuti arusnya seakan-akan kita akan hidup selamanya. Namun, jika sudah tiba masanya panggilan Tuhan datang melalui batin (metafisika) dengan kuasa-Nya akan membuat risau hati kita dan mencoba mencari apa sesungguhnya yang telah hilang atau terlupa dari fitrah kita sebagai manusia. Yaitu Tuhan.
Begitu halus dan lembut Tuhan membawa kita mengingat-Nya dan berkuasa untuk meninggalkan kita di saat sudah terasa sangat dekat.Sudah tentu, kita tidak menginginkan hal itu terjadi dan berusaha mempertahankan kedekatan dengan-Nya semaksimal mungkin. Dan tidak ayal juga kita ditinggalkan-Nya begitu saja.
Sebagai hamba yang tidak punya kuasa apapun, sudah barang tentu kita hanya menerima dengan ikhlas dan sadar bahwa kita bukan apa-apa dan hanya mampu bertemu dengann-Nya di ruang rindu (Ibadah; Sholat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

M. Arif Nasrulloh

M. Arif Nasrulloh